Pahlawan Kutu Buku

Hubunganku dengan julukan 'Pahlawan Kutu Buku' adalah seorang 'pewaris'. Sebagai pemuda yang juga suka membaca buku, aku terinspirasi dari Pak Budi, kepala kebun di sekolahku yang amat gemar membaca. Pak Budi yang dikenal sebagai Pak Budheg oleh para siswa, sebab kekurangan yang beliau punya. Namun, hal tersebut tidak menggoyahkan semangat Pak Budi menginspirasi para siswa, termasuk aku.  Menurutku, Pak Budi telah memberikan tauladan yang luar biasa. Meskipun menggandeng keterbatasan tidak bisa mendengar, beliau masih bahagia melakukan kegiatan-kegiatan positif. Di sela- kesibukan membersihkan taman dan seluruh sudut sekolah, kadang kulihat Pak Budi diam-diam mengendap ke perpustakaan. Ambil koran, buku bekas, atau diboleh pinjami satu buku oleh ibu perpus.

Suatu hari, aku penasaran, ingin memastikan kebenarannya. "Apa sih yang sebenarnya Pak Budi lakukan dengan tumpukan bacaan itu? Emangnya Pak Budi bisa membaca?"
Pikiran anak SMP yang masih terbilang cukup dangkal, sebab kupikir, keterbatasan tuna rungu juga berdampak pada kurang pintar membaca. "Mendengar saja tidak bisa, apalagi mengeja kata? Beliau juga tidak pernah bicara," itulah pikirku.

Melangkah gontai, secara sopan aku menyapa Pak Budi. Karena aku tersenyum, beliau juga nampak tersenyum. Aku menghampiri pak Budi saat beliau sibuk membaca majalah. Dengan keberanian dan kepolosan, aku bilang, "Bapak bisa membaca?" menyadari perkataan itu kurang sopan, aku langsung meminta maaf dengan menepuk pundak-nya. Namun pak Budi justru bingung. Dari situ aku baru teringatkan bahwa Pak Budi tidak bisa mendengar apapun bicaraku. Akhirnya, aku memilih bertanya lewat menulis di buku yang kebetulan terbawa. "Bapak sedang apa?" tulisku. 

Dengan akas, beliau menyahut buku dan menulis jawaban, "Membaca." Itu hanya tulisan, tapi bagiku terasa seperti balas bicara yang lantang. 

"Bapak suka membaca? Aku sering lihat bapak bawa buku sambil menyapu." Tulisku lagi.

"Iya. Hobi ini mendarah daging di jiwa saya. Membaca itu bagai permainan saya waktu kecil, karena berteman dengan manusia dan memainkan permainan mereka, justru saya dikucilkan. Saya memilih berteman dengan bacaan, menambah ilmu dan tidak mengurangi kebahagiaan," balas-nya.

Tersentuh seketika hatiku. Menatap tulisan panjang beliau yang ternyata sungguh nikmat di mata. Pak Budi yang punya notabe hanya tukang kebun penyandang tuna rungu, ternyata punya motivasi hebat. Aku tersenyum membacanya, "Pak Budi hebat."

"Terima kasih. Kamu pemuda suka buku?" Kami masih melanjutkan obrolan sepintas tulis menulis di belakang buku matematika. Aku mengangguk atas pertanyaannya, kemudian menulis, "Iya. Saya lumayan suka. Tapi masih sebatas membaca novel fiksi."

"Tidak apa-apa, itu hebat. Jarang anak muda meluangkan waktu untuk baca. Mereka lebih memilih suka mengada-ada bicara yang belum terpastikan fakta. Kamu harus jadi pemuda aktual dalam menanggapi menggila-nya dunia, saat ini."

Entah bagaimana aku memahami tulisan dari Pak Budi tersebut. Yang aku heran adalah, bagaimana Pak Budi tahu tentang gosip yang sering dibicarakan anak muda? Sedangkan beliau tidak bisa mendengar? "Bapak mengetahui gosip-gosip anak muda?" tanyaku.

"Ternyata membaca itu besar pengaruhnya. Saya menyadari saat beberapa koran telah tuntas terbaca," jawaban beliau.

Kami mengobrol terus sampai belakang buku matematika-ku terasa penuh seperti untaian kata di sebuah novel. Bagus-bagus sekali motivasi yang Pak Budi tulis. Namun sayangnya, aku kurang bisa memahami beberapa di antaranya. Masih perlu banyak belajar saAt itu.
 Yang aku berhasil tangkap dari obrolan kami yaitu, sederhananya, Pak Budi sudah gemar membaca sejak dikenalkannya buku dongeng Kancil Yang Cerdik, masa taman kanak-kanak. Beliau memang punya keterbatasan dalam mendengar, tapi dalam membaca tidak boleh ada batasnya. Sampai tamat sekolah dasar dan tidak sekolah lagi, pun beliau masih sering memunguti buku liar yang sudah dibuang tetangga, koran bungkus nasi, untuk keperluan hobinya. Bahkan memilih profesi jadi tukang kebun sekolah, itu bukan sembarang kerja, katanya. Pak Budi ingin semakin dekat dengan hal-hal yang bisa berdamai dengan hobinya. 

Saat ini, aku sudah lulus kuliah. Di hari senggang habis wisuda, aku ingin sesekali berkunjung ke- sekolah SMP-ku. Waktu yang tepat, ternyata membawaku benar-benar pergi ke sana. Saat itu ada acara gelar karya dan bazzar, temanku mengajak untuk sekedar cari hidangan yang murah-murah. Saat masuk gerbang, pikirku semua masih sama, kecuali warna cat gedungnya. Aku memandangi sudut yang sering diduduki Pak Budi, masih hangat terasa, obrolan tersepi dengan bahagia yang besarnya luar biasa. Baru seminggu yang lalu mendapat kabar duka, Pak Budi meninggal dunia sebelum aku mengunjunginya, bawa novel pertama-ku, hasil inspirasi darinya. Beliau sudah pergi. Cukup mengiris hatiku, membuka ruang sesalku, isi semua kerinduan. "Masih ingat Pak Budi, ca?" tanyaku pada Caca, teman yang mengajakku. 

Caca terlihat berpikir keras, "E-eum... Guru?"

"Pak Kebun!" balasku lantang.

"Ooh Pak Budheg tah?" katanya.

Aku meringis, "Hh, iya, dulu itu julukannya. Tapi bagiku, beliau tetap Pak Budi namanya. Dan julukannya, 'Pahlawan Kutu Buku'."

"Pak Budi sudah meninggal. Tapi beliau berhasil mengabadikan kegemarannya, ra. Kamu gak tahu?"

Sudah berapa tahun kutinggalkan kisah kasih itu, ternyata ada kabar Pak Budi yang aku belum tahu. "Apa?" tanyaku.

"Sekitar beberapa tahun lalu, waktu kita masih semester 2 kayanya. Beliau ada masalah dengan murid-murid di sini. Dibully habis-habisan. Karena memang ketepatan murid-muridnya nuakal-nakall. Namun tak kehabisan akal, beliau tunjukkan bahwa semua orang bisa hebat. Atas bantuan alumni dan guru-guru, juga ide buaguss milik Pak Budi. Tercipta-lah itu, ra." Caca menunjukkan satu gedung yang dinamai, 'Ada Pameran Setiap HaRi

"Boleh masuk?"

Caca pun mengajakku masuk. Dari pintu yang terpampang poster belasungkawa kepada Pak Budi. Dan sekali langkah yang buat aku terkejut sekaligus kagum, "Ini karya siapa?" banyak sekali karya yang terpajang di sana. Mulai dari ukiran, lukisan, bahkan ratusan buku. 

"Siapapun boleh membuang karya di sini." 

"HEBAT. Kamu kok gak pernah bilang."

"Aku kira kamu sudah tahu ra."

"Mungkin salahku juga, terlalu mengabaikan banyak hal selama ini. Bahkan inspirasi paling pertama yang buat aku semangat membaca, sampai bikin buku. Aku lupakan. Gak, aku gak lupa, hanya terlalu senang simpan kerinduan, tanpa olah usaha bertemu," ucapku sambil mengeluarkan buku karya-ku sendiri, menatapnya lekat kemudian kuletakkan tepat di samping ratusan buku itu.

 "Meskipun tidak sempat dibaca Pak Budi, mungkin kalau aku tinggalkan di sini, beliau bangga di sana."

Caca memelukku, "Beliau Abadi di sini, ra. Tidak perlu merasa bersalah. Gedung ini dibuat beliau untuk orang-orang yang merindukannya. Banyak yang datang ke sini, untuk buang lelah, bahkan murid murid lebih senang kemari bukan kantin. Karena pak Budi membuat tempat ini makin ceria. Kamu harus bangga selama tempat ini masih terlihat ceria."

"Setelah ini, siapa yang mengelola ca?"

"Sastrawan hebat, guru bahasa Indonesia bu Elok. Kenal kan?" 

"Wah, hebat sih. Tapi masihkah ceria, sedang bu Elok kan galak."

"Eitt.. Semua orang punya kekurangan dan kelebihan. Tapi jangan sembarangan menilai orang, ra."

Aku mengangguk paham. Setelah itu aku sadar bahwa kegemaran akan menciptakan mimpi seseorang, dan sebuah mimpi dapat mengalahkan kekurangan. Keterbatasan bukanlah hambatan, melainkan musuh yang harus dikalahkan. Sepanjang 60 tahun hidup Pak Budi, beliau habiskan untuk menggemari bacaan, menciptakan mimpi, sampai abadi. Dulu, Pak Budi yang hanya diolok Pak Budheg dan tersimpan sebagai tukang kebun saja di memori murid-murid SMP 2. Kini, beliau terlihat sangat keren bagi mereka.

"Pak Budi menyelamatkan jiwa suka baca yang beruntun dijajah game online," oceh Caca.

 'Pahlawan' yang sebenarnya, "Pahlawan Kutu Buku," ucapku.




Komentar

Postingan Populer