Orang Tuli Ngerti Empati
Orang Tuli Ngerti Empati
Agustus 2025. Negaraku Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Awal tahun sudah gempar dengan ancaman 'Indonesia Gelap,' hingga banyak kejanggalan kasus yang terungkap. Aku tak bisa mencerna kondisi ini dengan cermat dan tepat, intelektualku tentang politik tak pernah merapat. Aku tak paham apa yang terjadi. Katanya, kebijakan sedang dibolak-balikkan jadi ancaman pada orang-orang yang tak punya wewenang. Aku tak bisa dengar seluruh aspirasi, tapi mataku melihat semua yang terjadi. Aku tuli tapi tak buta. Bukan lagi tentang kebijakan sewenang-wenangnya, tapi soal peri kemanusiaan dan empati.
Sedikit bercerita, aku tak sekolah dan menyandang disabilitas. Aku terlahir tuli dan keluargaku tak mampu bayar uang sekolah. Aku belajar membaca dari komunitas literasi yang hadir di pelosok-pelosok, sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa. Seumur hidup, tidak ada kunjungan walikota ke rumahku, hanya bapak pernah mendapat tunjangan BPJS karena dia sakit paru-paru. Saat itu, persyaratannya sulit dan ribet. Oleh sebab keterbatasan yang kupunya, aku diabaikan oleh beberapa pihak, kartu BPJS baru jadi setelah ayahku meninggal dunia. Dan kini, di rumah hanya tinggal ibu, adik, dan aku. Sebagai anak perempuan pertama yang sudah dewasa, aku harus bekerja. Melawan keterbatasan yang kuanggap urusan belaka. Aku tak sempat belajar Sejarah Indonesia tapi ibuku memberi nasehat moral, soal perilaku yang pantas atau tidak , sebagai manusia.
Sepulang bekerja, di tengah-tengah kota, kulihat ada demo lagi. Seakan tak pernah tuntas permasalahan di negeri ini. Di samping jalan, posisiku agak jauh dari kerumunan demonstran. Aku duduk dekat ibu-ibu yang juga berjualan di hari itu, dia seperti bertanya padaku, entahlah tak jelas. Ocehan panjang lebar hanya terdengar samar. Di akhir perbincangannya, aku hanya bilang kalau aku tuli, melalui pergerakan tangan. Ibu itu merangkulku, menepuk pundak, dan menangis. Pemuda di sampingku menulis sesuatu di ponselnya, ia sodorkan padaku inti dari ocehan ibu itu. Begini, "Kasihan rakyatnya, demo di tempat kosong."
Aku mengangguk paham. Pemuda di sampingku melanjutkan obrolan dengan bahasa isyarat, "Mbak, baik-baik saja?" Ya, aku jawab "Baik."
"Mending mbak segera pulang, makin malam makin miris."
"Mereka tidak pulang?" kataku, memaksudkan 'mereka' pada para demonstran itu.
Belum sempat pemuda itu menjawab, ia mendapat panggilan dari temannya, "C*k, lari loo... Mereka nembak, semp*k! Mereka ngejerr."
Pemuda itu tampak panik, "Ke arah gue? Bangs*t di sini banyak pedagang dan masyarakat sipil."
Dia lantas menghimbau semua warga (termasuk aku) untuk berlari lebih dulu, tapi aku tak paham maksudnya. Yang kutahu, dia panik dan semua orang pergi. Terakhir kali, pemuda itu menarikku ke tepi jalanan, Ah, Mobil Brimob melaju kencang, 'Brakkk! Seorang ojol tertabrak. Semua orang yang tadinya sibuk kabur, jadi diam. Melongo, merasakan getir kekejaman di depan mata. Aku pun. Aku tuli, tapi suara kerasnya terdengar di kepala. Mataku mengirim sinyal-sinyal sengsara, kasihan dia, hanya pencari nafkah yang melintas untuk bekerja.
Pemuda tadi melepas genggamannya dari tanganku, kulihat secara akas dia menolong ojol yang tersungkur tak berdaya. Tapi mobil besar yang dikendarai polisi itu.. lari.... lebih cepat dari keroyokan massa. Tapi tak ada yang berani mendekat, menyerbu, atau mengejar. "Isinya sudah senjata beragam, pelindungnya sudah keras, bisa-bisa kepala kena!" Begitulah pemuda itu bercerita padaku, setelah kerusuhan itu selesai. Dan seorang ojol tadi sudah dibawa ke rumah sakit. Kira-kira, bagaimana ya keadaannya.
Ah, tadi itu aku benar-benar melihat jelas. Mobil itu harusnya bisa rem mendadak, tapi seakan sangat marah dan sengaja menyerang rakyat. Dari jauh, sudah jelas-jelas banyak kerumunan orang, tapi mobil itu tetap masuk ke tengah-tengahnya. "Wah! Mereka sudah tak bisa membedakan manusia dengan tikus mati," kata pemuda itu padaku. Aku pun marah,
"YA, aku tak bisa dengar amarah semua orang. Tapi melihat kerut wajah mereka semua. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Kenapa orang bersuara jadi salah kaprah, bahkan nyawanya turut dimatikan."
"Nona! Yang itu tadi hanya sedang bekerja. Kamu jelas lihat kan, itu masih bisa berhenti, tapi tetap dilindas. Gobl*k!"
"Ya. Aku sangat memahami."
Kami hanya berbincang secara sunyi, lewat gerakan basa isyarat. Tapi ekspresi tak bisa bohong, kami sama-sama muak dengan kondisi yang terlewat barusan. Pemuda itu juga memberiku informasi, bahwa secara cepat semua orang di sosial media juga ikut marah. Besok-besok, demo di sini akan makin parah lagi. Amarah rakyat justru disulut sejadi-jadinya.
"Mbak, besok jangan jualan di sini," ini arahan pemuda itu. Kami belum sempat kenalan, tapi kulihat dia memakai baju komunitas berbahasa isyarat. Mungkin mahasiswa yang pernah mengajar di sekolah adikku. Dia pergi, tapi sebelum itu, kutepuk pundaknya.
"Semangat dan tetap cari perlindungan. Aku siap, selalu berada di sini setelah bekerja. Cari aku besok saat kamu butuh bantuan."
Pemuda itu tersenyum, dan pergi sambil mengacungkan dua jempol dan isyarat 'MERDEKA!'
***
Besoknya, aku tak berjualan di sekitar alun-alun kota. Beralih di sekolah dekat rumahku, meskipun lebih sedikit peminatnya, karena yang kujual adalah minyak dan lilin daur ulang. Tapi penghasilannya cukup untuk beli makan hari ini. Setelah bekerja, aku kembali ke tempat semalam. Kulihat ricuhnya lebih tak beraturan, ada yang terbakar, ada yang tercecer di mana-mana. Aku tak bisa berinteraksi dengan siapa pun, selain menunggu pemuda yang bisa basa isyarat kemarin mencariku. Aku mulai khawatir, "Apa dia baik-baik saja, ya."
Dari sekian orang berlalu lalang. Aku tak bosan melihat semangatnya. Suaraku tak lantang, tapi bisa membantu mereka, memberi ruang kecil di sebelahku untuk mengeluh walau tak kudengar secara jelas. Ada beberapa manusia yang mampir di sebelahku, tapi pemuda itu belum ke sini. Siapa ya namanya, ah, tak sempat membaca tulisan kecil di dadanya. Ahmad? Ahmad siapa ya...
Semakin malam, ada tiga orang memakai jaket yang sama dengan pemuda kemarin, jaket warna navy yang lekat itu. Satu di antaranya menghampiriku, dia bilang padaku, "Mbak, Dion tertembak."
Hah, siapa Dion...
Aku menjawab, "Siapa?"
Dia menjawab lagi pakai basa isyarat, "Saya temannya Dion. Katanya, seseorang akan menunggunya di samping pohon cemara dekat zebra cross. Mbak, harusnya kenal. Dion berkaca mata."
Hah.. pemuda itu? Iya, dia memang berkaca mata.. dia tertembak?
"KOK BISA?" jawabku.
"Dion akan baik-baik saja mbak. Dia sudah ditangani medis. Kurasa Dion ingin ke sini malam ini untuk menemui mbak. Jadi kami ke sini, menyampaikan keadaan Dion."
Aku tersentak banyak hal. Sejak tadi kulihat banyak rakyat menderita, tak satu pun ada kabar yang lega. Semua terguncang, semua tertekan, dan tersulut kobaran amarah yang besar. Tidak ada kabar baik apa pun, selain kabar serangan aparat pelindung yang terlindungi pagar kokoh gedung kekuasaan. Benar kata ibu-ibu pedagang kacang kemarin, mereka demo di tempat kosong. Saat perwakilannya dicari, wakil-wakil rakyat itu justru lenyap. Kiasan dari kata tempat kosong itu, mungkin juga menjelaskan isi kepala pemangku jabatan, tak punya otak dan nurani.
Aku tak betah melihat kondisi ini. Aku memang tak melihat secara langsung insiden yang dialami Dion, dan aku tuli. Tapi aku bisa mendengar rintihan sakitnya. Dion orang baik, sama sekali tak kulihat perlawanan bengisnya. Sejak kemarin, dia hanya sibuk merawat para pedagang, pelintas jalanan, dan orang-orang yang tak tahu apa-apa sepertiku. Kenapa pemuda seperti dia harus jadi korban? Dia marah, tapi jelas tidak menyerang sebrutal itu. Kok bisa ya, penyampaian aspirasi dibalas perlawanan senjata? Apa ini adil?
Aku tuli, tapi aku dengar tembakan asal menyasar itu, ramainya kota, dan seluruh suara rakyat.
Aku tuli, tapi aku dengar suara-suara kebencian pada kebijakan tak adil.
Aku tuli, tapi aku bisa melihat mana yang manusia dan tikus mati.
Aku tuli, tapi aku bisa merasakan sakitnya ketidakadilan, kekerasan, dan dimuntahi kebijakan sepihak.
Aku memang tuli, tapi aku punya empati.

Komentar
Posting Komentar