Kucing Garong
Malam Ini Datang dengan Perut Kosong
'Ngaong bukan 'Miaw
Aku yang sedang santai di ranjang dapur, sembari nonton drama Chief Detective 1958, terkejut mendapati bocah besar makan di sana.
"Kucing siapa?"
Saat aku bergegas mendekati, dia lari sekencang-kencangnya. Dari jauh, memastikan bocah besar kabur dengan gemuruh suaranya yang sering terdengar di jam-jam 00.00-03.00.
"Oalah, suara kucing bertengkar itu berasal dari dirinya. Bocah besar mirip ikan buntal," anggapanku.
Lanjutlah aku rebahan di ranjang, menikmati drama yang sedang meranah ke-konflik cerita.
Tidak lama setelah itu. Tapak kaki memasuki dapurku, seperti ular yang berjalan, berlalu sangat cepat. Tidak bersuara, namun tiba tiba kudapati kucing ikan buntal itu lagi. "Sedang apa?"
Kali ini, aku tidak mau mendekatinya secara bar-bar seperti tadi. Agar dia tidak lari. Aku potret kehadirannya dari jauh, untuk bukti, kalau-kalau kucingku Oren atau Nyonya Puf bertanya, "Siapa pencuri makan malamku?!"
Mendekatinya perlahan, tanpa gema suara langkah pun bicara. Kupastikan bisa mendapat wajah bocah besar ikan buntal pencuri itu. 'Cekrek' berhasil. (potretnya sudah di atas tadi)
Lima langkah lagi aku sampai di dekatnya, tapi si ikan buntal menyadari. Dia hampir mundur dan berlari. Sebab aku lebih mengalah mundur sambil bilang, "Gapapa, makan saja. Aku tidak kesana." Si ikan buntal melanjutkan makan haramnya (karena mencuri).
"Apa aku dapat dosa?" Halah, persoalan kucing lapar yang tiba-tiba datang. Bukan berkaitan dengan tindak kriminal membahayakan nasib akhirat kan. Toh itung itung menyedekahkan makanan si Oyen yang pelit dan rakus itu.
Apalagi penjahat seperti Nyonya Puf, tidak tahan semua kucing ditatap oleh mata psikopat-nya.
Yaudah. Aku biarkan dia makan. Sudah diizinkan pun kucing itu tidak makan pelan-pelan. Aku memperhatikan kucing itu dalam-dalam, "Seperti mengenal wajah-nya."
"Gerak gerik yang tidak tahu malu. Makan seperti pencurian. Kabur saat didekati. Tidak manja sama sekali. Kucing asing dengan suara kasar dan keras. Sering bertengkar," detail penilaianku.
Saat si Oren datang dengan langkah dan bau yang tentu kukenal. Dari pintu masuk ke dalam, Oren tidak berani pergi ke dapur. Dia memilih mengendap di bawah ranjangku. Dan saat itu pula aku tersadar, "Kucing ikan buntal itu predator! Dia pembunuh kucing-kucing jinak! KUCING GARONG..."
Mataku melotot saat itu juga. Berlari kencang untuk mengusirnya. Kucing garong pun bergegas kabur, sambil bawa perut kenyang dan kunyahan ikan segar milik kucingku. Melemparinya kata kata kotor, "Dasar!Jangan kesini lagi, atau kamu akan terluka dengan batu-batu di dalam pot ini." Marahku secara sadar, memanggul pot besar yang tertata di samping rumah.
Kenapa aku benci dan dendam pada kucing garong? Pasalnya, dia adalah laki-laki tidak berpendidikan yang kerjaannya hamilin kucing betina jinak. Dia bawa jalan-jalan tanpa seizin pemiliknya. Contoh, kucingku 'Kucil' yang terhipnotis oleh pesona gagah abal-abalnya. Sampai jarang pulang, tapi sekali pulang perut-nya besar, lagi bunting. Kucingku 'Kucil' pun sudah tercemar virus penjahat dari kucing garong. Kucil yang dulu jinak dan senang disayang, kini justru sering kabur kalau didekati, seperti garong.
Sial, kapok, dan banyak-banyak galau. Untungnya Nyonya Puf tidak gampang terhipnotis oleh pesona jeleknya. Ah, tapi kucing garong yang tadi kelihatan masih imut dan nyaman digendong. Persetan imut! Kucing garong tetaplah MAUT.
(Bonus)

Komentar
Posting Komentar